SEKOLAH,MEMERDEKAKAN ATAU MEMENJARAKAN

0
160

SEKOLAH, MEMERDEKAKAN ATAU MEMENJARAKAN?
Oleh
Widia Damayanti (1505098)
Program Studi Pendidikan Akuntansi
Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pendidikan Indonesia

Sekolah yang dalam bahasa aslinya yakni kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin) secara harfiah artinya adalah “waktu luang” atau “waktu senggang” (Topatimasang: 1998). Sekolah diartikan sebagai tempat seseorang belajar untuk memanfaatkan waktu senggangnya. Namun pada masa kini, sekolah telah mengalami pergeseran makna, yang tadinya hanya sebagai tempat untuk belajar ketika waktu senggang saja, kini sekolah telah menjadi sesuatu yang wajib.

Para orang tua sekarang berpandangan bahwa anak mereka akan menjadi baik jika dimasukan kelembaga yang disebut sebagai sekolah ini. Mereka memaknai sekolah sebagai tempat yang dapat mengeluarkan dari kebodohan serta membentuk anak menjadi manusia yang berakhlak melalui pendidikan yang ditawarkan sekolah itu. Dapat dikatakan bahwa sekolah dianggap sebagai lembaga yang memerdekakan.

Pertanyaan yang muncul terhadap kenyataan tersebut adalah apa sesungguhnya sekolah itu? Mengapa institusi atau lembaga sosial ini menjadi demikian berpengaruh terhadap kehidupan manusia?

Lembaga sekolah di era modern ini telah menggantikan peran lembaga keluarga sebagai tempat pembinaan, pembimbingan dan pembelajaran bagi anak-anak yang sedang mengalami tumbuh kembang. Anak-anak di dunia ini, sedari kecil, ada yang mulai 6 tahun, 5 tahun bahkan 3 tahun, setiap hari menghabiskan waktunya di tempat yang bernama sekolah.Ssekolah memiliki citra sebagai tempat untuk “mencerdaskan” dan menimba ilmu pun sangatlah lekat di benak setiap orang, kemudian muncul paradigma bahwa tanpa ber-sekolah orang tidak mungkin dapat menjadi pintar dan unggul.

Sekolah juga dinilai sebagai ukuran maju dan mundurnya suatu negara, yang berujung pada penilaian seberapa sejahterakah rakyat disuatu negara. Human Development Index (HDI) yang dibuat oleh United Nations Development Programme (UNDP) merupakan wujud nyata dari hal tersebut. Sebagai contoh, pada tanggal 21 Maret 2017, UNDP mengumumkan hasil HDI tahun 2015 dimana Indonesia berada pada peringkat ke-113 (Hutasuhut, 2017). Hal itu memperlihatkan bahwa SDM Indonesia memiliki daya saing yang rendah dan peluang memperoleh lapangan pekerjaan yang baik sangatlah kecil.

Maka sudah tidak diragukan lagi bahwa sekolah menjalankan berbagai fungsi didalam kehidupan masyarakat. Munculnya sistem full day school yaitu sistem persekolahan dengan jam belajar yang panjang merupakan bentuk perluasan fungsi sekolah, dimana anak-anak menghabiskan seluruh waktunya di sekolah bukan lagi dengan keluarganya.

Setiap sekolah memerlukan kurikulum untuk mencapai tujuan-tujuannya, dimana dalam kurikulum tersebut terdapat bahan-bahan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang anak. Sehingga dari hal tersebut, sekolah dapat melahirkan anak-anak dengan kemampuan akademis yang bagus. Namun disisi lain, hubungan antara komponen-komponen dalam pembelajaran disekolah sepeti guru dan murid tidak selalu berdampak positif. Berbagai permasalahan muncul seperti tindak kekerasan yang dilakukan guru terhadap murid atau bahkan tindak pelecehan seksual. Kasus-kasus tersebut menimbulkan anggapan bahwa sekolah yang seharusnya sebagai tempat menimba ilmu malah menjadi tempat tindak kejahatan yang merugikan.

Selain itu, kadangkala kurikulum yang ditetapkan kepada murid terlalu kaki da malah membatasi kreatifitas dari murid itu sendiri. Hal itu berakibat pada pandangan murid yang beranggapan bahwa sekolah adalah penjara, mereka sangat anti dengan nama sekolah, membenci hari senin sebagai hari kembali bersekolah setelah libur dan tidak fokusnya mereka saat pembelajaran.

Perbedaan cara pandang tersebut disebabkan karena perbedaan kesan pengalaman pertama yang dialami seseorang, dimana ada sekelompok orang yang mendapatkan kesan positif ketika mereka memasuki sekolah, menjalani proses pembelajaran didalam sekolah serta mendapatkan feed back yang sesuai atau melebihi ekspektasinya.

Disisi lain, ada sekelomok besar orang yang mendapatkan kesan negatif ketika mereka memasuki sekolah, sehingga mereka tidak bisa mengambil manfaat bahkan mengikuti sistem pembelajaran di sekolah dengan baik.

Kesan pengalaman itu perlu diperhatikan oleh setiap komponen didalam lingkungan sekolah terutama seorang guru, yang berhubungan langsung dengan murid. Guru harus memiliki kemampuan untuk dapat memahami murid, tidak asal meneapkan kurikulm secara mentah, pemahaman akan metode pembelajaran yang dianggap lebih efektif dalam mencapai tujuan sangat perlu dikuasai oleh seorang guru. Jangan sampai kesalahan guru itu akan berdampak kepada timbulnya kesan negatif siswa terhadap lembaga sekolah.

Disamping itu, sistem dalam persekolahan itu sendiri harus dipertimbangkan. Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia yang disebutkan dalam sejarah bahwa beliau bersama rekan-rekannya mendirikn sebuah sekolah yang disesuaikan dengan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Sekolah itulah yang kini kia kenal dengan Taman Siswa. Dilihat dari namanya saja, tujuan Ki Hajar Dewantara mendirikan sekolah, bukanlah sebagai penjara bagi murid. Namun sebagai taman, yang dapat diartikan sebagai tempat yang menyenangkan, kondusif dan efektif bagi murid untuk mendapatkan pengetahuan sehingga bermanfaat bagi kehidupannya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here