Menabur MOS, Menuai Mouse ?

0
121

 

Masa Orientasi Sekolah (MOS) atau biasa juga disebut Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) sedang berlangsung di masa penerimaan siswa atau mahasiswa baru di seluruh penjuru negeri. Tradisi pergantian tahun pelajaran dalam menyambut siswa baru diwarnai dengan berbagai aksi yang membuat telinga masyarakat tergelitik untuk membahas dan memperbincangkannya. Bukan perlakuan yang baik dan ramah-tamah dalam masa orientasi, calon-calon generasi muda ini justru mendapat aksi kekerasan fisik dan perpeloncoan. Memang tidak seluruh sekolah di Indonesia menerapkan tradisi ini, namun mayoritas sekolah dapat dilihat dengan jelas menerapkan peraturan “aneh-aneh” bagi para calon siswanya, terutama aksi perpeloncoan kakak senior yang terjadi turun-temurun kepada adik seniornya. Tak jarang, tiap tahun ajaran baru kita mendengar banyak berita tentang kekerasan fisik dan perpeloncoan yang berakhir pada nasib tragis siswa/siswi yang kehilangan nyawanya setelah tertatih-tatih mengikuti beban MOS yang berat, sebut saja Evan Situmorang, siswa Bekasi yang meninggal akibat kelelahan setelah berjalan sejauh 4 km dari kegiatan MOS baru-baru ini.

Mari kita kritisi dan hayati bersama-sama. Sebenarnya, esensi yang diharapkan dari adanya MOS (Masa Orientasi Sekolah) bagi siswa baru itu apa? Cukup efektifkah penerapan perpeloncoan dan aksi kekerasan fisik selama MOS berlangsung? Tradisi perpeloncoan itu salah siapa? Lalu, bagaimana seyogyanya peran pemerintah dan masyarakat dalam menyikapi MOS yang diwarnai dengan tindak perpeloncoan?

Kurikulum 2013 yang saat ini diterapkan dalam pendidikan menekankan pada pengembangan karakter peserta didik. Maka sudah seharusnya MOS yang dilaksanakan selama 1 pekan itu dijalankan berdasarkan prinsip pendidikan karakter. MOS harus lebih edukatif. Bahkan Bapak Ridwan Kamil mengatakan bahwa perpeloncoan fisik itu warisan jadul (jaman dulu). Masa Orientasi Sekolah pada intinya bertujuan untuk mengenalkan peserta didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru serta memupuk mental baru untuk menghadapi beban belajar yang meningkat dibandingkan jenjang sebelumnya. Selain itu, MOS merupakan ajang pengenalan peserta didik mengenai keseluruhan detail sekolah, mulai dari tata letak ruangan kelas, taman, mesjid, perpustakaan, hingga berbagai jenis ekstrakulikuler yang dapat diikuti oleh seluruh peserta didik.

Lantas apa yang terjadi pada MOS yang diwarnai dengan aksi kekerasan fisik dan perpeloncoan? Pada dasarnya MOS itu membantu para siswa baru untuk pembentukan mental yang lebih kuat agar pada saat berada pada lingkungan sebenarnya, mereka sudah memiliki mental yang mantap. Namun sangat disayangkan, penafsiran “pembentukan mental” disalahgunakan oleh sebagian orang/instansi/lembaga. Mereka menganggap, pembentukan mental yang kuat harus dilakukan dengan cara kekerasan fisik dan aksi perpeloncoan. Maka jika ada pertanyaan efektifkah atau tidak aksi perpeloncoan ini, cukuplah melihat seberapa banyak kerugian yang dinikmati para peserta didik hingga nyawanya terenggut. Masih efektifkah?

Berbicara mengenai siapa yang salah atas aksi perpeloncoan dan kekerasan fisik selama kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS) tidak luput dari sorotan kakak senior dan peran sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa MOS dijadikan momentum bagi kakak kelas untuk mengerjai siswa baru adik kelasnya. Selain itu, ada pula yang berpandangan bahwa pendekatan kekerasan diperlukan untuk membentuk mental siswa baru. Tulisan ini tidak saya buat untuk memojokkan tingkah kakak senior semata, namun melihat sisi objektif pendidikan yang melemah seiring dengan penerapan cara-cara yang “salah” dalam membentuk mental siswa. Lalu seiring berjalannya waktu, ketika MOS berikutnya bergulir, apakah siswa yang dulunya mendapat tindakan perpeloncoan tidak akan menerapkan pada angkatan berikutnya? Saya merasa tidak yakin akan hal itu.

Pada akhirnya, peran pemerintah yang dominan diperlukan untuk menyikapi isu pendidikan yang sedikit meresahkan ini. Berbagai peraturan nyata perlu digalakkan dan sanksi yang tegas perlu diterapkan bagi siapa saja yang melanggar tata tertib selama masa orientasi sekolah. Pemerintah hendaknya tidak memandang isu ini sebagai masalah sepele bak angin badai yang pasti berlalu, namun juga harus ditindaklanjuti dengan usaha yang serius. Jangan sampai anak didik bangsa; generasi penerus dengan segudang potensi dan bakatnya dikebiri dengan aksi perpeloncoan ataupun kekerasan fisik, sehingga seolah-olah membentuk pola sikap dan tingkah laku seperti seekor tikus atau “mouse” yang merugikan bagi pengelola ladang persawahan, Pemerintah dan Pendidikan; menjadi manusia pengerat yang tidak pandang bulu dan tanpa akal melahap segala sesuatu yang ada di sekitarnya, melenyapkan karakter dan kepribadian bangsa para calon siswa dengan mental buruk dan negatif yang sangat merugikan. Kita dapat mencontoh salah satu tindakan tegas dari salah satu Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama yang mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 26 Tahun 2015 tentang masa orientasi peserta didik baru dan intruksi Gubernur Nomor 16 Tahun 2015 tentang pencegahan kekerasan di sekolah. Bila ada siswa yang melanggar maka akan dikeluarkan dan tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah negeri lainnya.

MOS (Masa Orientasi Sekolah) harus dikembangkan dengan pendekatan dan metode yang membangkitkan karakter unggul siswa, bukan melemahkan potensi majemuk yang ada pada siswa. MOS juga harus dipastikan aman dan nyaman bagi semua anak. Sekolah harus memastikan tidak ada kultur senioritas yang memicu kekerasan dalam pelaksanaan MOS. Selain itu, sekolah harus memastikan kegiatan MOS tidak dilakukan di lokasi yang membahayakan keselamatan peserta didik baru. Dan yang terpenting, kegiatan MOS harus dipastikan tidak membuat orangtua merasa resah yang bisa memacu “salah paham” antara orangtua dan sekolah. Kegiatan MOS harus bisa menenangkan orangtua sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

Baik sekolah, masyarakat, maupun pemerintah harus berintegrasi menciptakan iklim pendidikan yang optimal dan memberi rasa aman bagi siswa dan orangtua. Sudah seyogyanya masyarakat ikut berpartisipasi dalam mengawasi jalannya pendidikan ke arah tujuan dan cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masyarakat dapat mengemukakan pendapatnya secara terbuka kepada para wakil rakyat mengenai alternatif solusi yang dapat diterapkan guna merombak tradisi MOS yang kerap kali mengundang kekerasan fisik. Bukankah di era teknologi yang sudah canggih ini kita dapat membuat desain orientasi sekolah sesuai perkembangan zaman ke arah penyeseuain yang positif? Bahkan pendidikan karakter yang sedang digalakkan pemerintah saat ini sangat mendukung peserta didik untuk menampilkan jiwa tanggungjawab dan toleransi yang tinggi, bukan moral yang dibumbui dengan aksi perpeloncoan.

Kita sebagai mahasiswa sudah sepantasnya untuk turut andil dalam membangun pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik. Mahasiswa dapat berkontribusi dalam menyumbangkan pemikiran-pemikiran atau gagasan ilmiah dan kreatif kepada pemerintah untuk membentuk mental para siswa baru sesuai jiwa dan kepribadian bangsa. Mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis dan analitis terhadap perkembangan isu-isu pendidikan yang menyimpang dari tujuan dasar Negara.

Pendidikan adalah milik kita semua. Jika bukan kita yang menjaga dan melestarikan nilai agungnya, siapa lagi?? Jangan sampai terjadi (lagi), aksi menabur “MOS”, menuai “mouse”.

Hidup Mahasiswa!

di tulis oleh : Lina Lathifah (Pendidikan Akuntansi 2013, UPI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here