KETIKA PUSARAN ARUS GLOBALISASI TAK TERBENDUNG LIQO’ PEREKAT REKONSTRUKSI MAHASISWA MODERN BERKARAKTER

0
123

KETIKA PUSARAN ARUS GLOBALISASI TAK TERBENDUNG LIQO’ PEREKAT REKONSTRUKSI MAHASISWA MODERN BERKARAKTERKETIKA PUSARAN ARUS GLOBALISASI TAK TERBENDUNG LIQO’ PEREKAT REKONSTRUKSI MAHASISWA MODERN BERKARAKTER

Oleh:

Fathur Rahman

 

Muda-mudi jaman sekarang

Pergaulan bebas nian

Tiada lagi orang yang melarang

Tapi sayang banyak salah jalan

(Koes Plus)

Ungkapan Koes Plus dalam lirik lagu muda-mudi tersebut sangat tepat untuk menggambarkan keprihatinan terhadap pemuda saat ini. Tragedi lunturnya karakter generasi muda seakan-akan menjadi sebuah bumerang di negeri pertiwi, derasnya pusaran arus globalisasi yang kian hari kian meluas tak mampu terbendung lagi. Westernisasi budaya yang gencar mampu mengubah pola pikir pemuda menuju ke arah pola hidup modern yang cenderung hedonis dan individualis. Pola hidup tradisional yang memegang erat nilai-nilai agama mulai ditinggalkan karena dianggap usang dan kuno.

Sebelum membahas karakter lebih jauh, kita harus memahami apa sebenarnya arti dari karakter. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas (2008) karakter adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun yang dimaksud berkarakter adalah “berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”.1 Mengacu  pada  Undang-undang Sisdiknas No. 20  Tahun  2003 Pasal 3, watak atau  karakater  yang  diharapkan  ialah  beriman  dan  bertaqwa  kepada  Tuhan  Yang Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan  menjadi warga negara  yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

1http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/kbbi/index.php

Sementara itu, KH. Abdullah Gymnastiar mengungkapkan orang yang berkarakter baik memiliki ciri-ciri seperti: Jujur, peduli, adil, tanggung jawab, ikhlas, dermawan, tawadhu, dan senang menolong.2 Ahir-ahir ini kita digemparkan dengan isu LGBT yang sedang diperjuangkan oleh sekelompok pemuda yang mengatasnamakan HAM, penelitian BNN dan Puslitkes UI pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 25 persen dari 4 juta penyalah guna Narkotika berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Seorang sejarawan Arnold Toynbee mengungkapkan dari dua puluh satu peradaban dunia yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam alias karena lemahnya karakter.3 Sejarah  mencatat bahwa pemuda memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Hal ini bisa kita lihat dari peristiwa Sumpah Pemuda, pergerakan memperjuangkan kemerdekaan,  pergerakan mempertahankan kemerdekaan, lahirnya orde baru dan revolusi 1998.

Degradasi moral dan etika yang dihadapi Indonesia membutuhkan peran aktif mahasiswa sebagai penerus estafet bangsa, mereka harus dibentuk  menjadi pemuda tangguh menghadapi badai globalisasi, pemuda gagah menyusuri arus modernisasi tanpa kehilangan jati diri sebagai pemuda indonesia sejati. Sebelum menjalankan peran sebagai penyambung estafet dimasa yang akan datang, apakah yang sudah kita lakukan untuk merekonstruksi karakter yang telah luntur tersebut?. Sudahkah kita menebarkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan?.

Liqo’ adalah salah satu wujud nyata yang dapat dilakukan untuk merekonstruksi karakter mahasiswa modern. Secara harfiah Liqo’ berarti pertemuan,monitoring, atau kajian kelompok. Konsep dasar liqo’ diadopsi dari  metode dakwah Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya. Sebelum turun Q.S al-hijr:94 yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk melakukan dakwah

 

2http://www.kompasiana.com/igedesukrawan/tipe-karakter-manusia-menurut-aa- gym_5500df82a33311537351236f.

3Lickona, Thomas.2004. Character Matters. New York: Touchstone.

 

secara terang-terangan, rumah Arqom bin Abi al Arqom dijadikan sebagai pusat pengajaran dan penguatan syakhsiyah islamiyah. Metode dakwah ini sangat efektif, terbukti dengan 40 orang masuk islam selama kurun waktu 3 tahun. Di Universitas atau Perguruan Tinggi, liqo’ sangat tepat dijadikan sebagai wadah merekatkan kembali konstruksi akhlak, menanamkan nilai dasar keislaman, silaturahmi, dan penguatan karakter.

Kegiatan liqo’ secara tersirat mengajarkan bahwa tugas  mahasiswa  bukan  sekedar  duduk  belajar  di  bangku perkuliahan  tetapi  juga  menerapkan  dan  menyebarkan  ilmu  yang  dimilikinya termasuk  mengajak  dan  menggerakkan  orang lain kepada  perubahan  menuju kebaikan  dan  perbaikan. Untuk mengatasi permasalahan degradasi moral dan karakter mahasiswa, terdapat sebuah rancangan sederhana  fungsi-fungsi pokok yang harus dijalankan oleh setiap kelompok dakwah yang melaksanakan liqo’. Lima fungsi pokok ideal ini saya sebut sebagai fungsi “EDU-REAKSI (Edukasi, Rekonstruksi, Afeksi, Konservasi, Silaturahmi dan Internalisasi)”.

Pertama, fungsi edukasi yaitu liqo’ merupakan sarana untuk melakukan pengajaran konsep dan materi nilai dasar keislaman, seperti pengajaran tauhid, muamalah, dan ibadah. Kedua, fungsi rekonstruksi yaitu fungsi liqo’ sebagai pembangun kembali karakter moral pemuda yang telah luntur. Ketiga, fungsi afeksi yaitu liqo’ berfungsi sebagai tameng untuk memproteksi diri dari pengaruh negatif arus globalisasi yang dapat merusak karakter moral pemuda. Dapat pula dikatakan bahwa fungsi afeksi ini merupakan fungsi pencegahan terhadap segala  bentuk akibat buruk dari sistem global yang merusak moral dan karakter.  Keempat, fungsi konservasi yaitu liqo’ berfungsi untuk menjaga dan melestarikan nilai dan karakter bangsa yang telah luntur. Kelima, fungsi silaturahmi artinya pertemuan liqo’ merupakan sarana untuk mempererat rasa  kasih sayang terhadap sesama (ukhwah islamiyah) karena islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Terakhir, fungsi internalisasi yaitu liqo’ merupakan wadah untuk menanamkan nilai dan karakter dalam bentuk micro group sharing and teaching.

Sebelum terjun langsung ke masyarakat mahasiswa perlu  membekali  diri  dengan  berbagai  ilmu pengetahuan,  memperkuat  mental  dan spiritual ,  serta  mengikuti  perkembangan  teknologi  dan  informasi  dengan  tetap berpegang  teguh  pada  nilai  dan  norma  yang  ada.  Dengan bekal yang diperoleh melalui liqo’ tersebut mahasiswa diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai agen of change and agen of lead  yang berkarakter, berkepribadian, unggul, kritis, idealis dan tangguh.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here