Aku dan Bangsa Ku

0
126
Indonesia adalah sebuah bangsa yang ada di kawasan Asia Tenggara yang memliki wilayah kepulauan sangat banyak. Indonesia sebuah bangsa yang diperjuangkan dengan darah dan air mata. Indonesia adalah bangsa yang menghargai para pejuang-pejuangnya. Indonesia, bangsa yang tidak pernah lepas dari masalah-masalah yang menghimpitnya. Indonesia aku cinta Indonesia.
Semua negara di dunia pastilah ingin melindungi segenap rakyatnya agar memiliki kehidupan yang baik, sejahtera, makmur, damai, saling meghormati, saling menyayangi, saling berbagi, saling tolong-menolong dan berbagai kehidupan indah yang lainnya. Namun itu semua belum bisa tercapai secara penuh oleh negara kita. Dengan faktanya banyak data-data yang menunjukan kesenjangang, kesengsaraan, ketidak adilan, ketidak harmonisan dan berbagai kehidupan yang kurang baik lainnya di negeri ini.
Semua permasalahan itu bisa berasal dari krisisnya kepemimpinan yang ada saat ini. Tidak dipungkiri memang masih ada beberapa pemimpin baik skala nasional maupun daerah yang menunjukan kredibilitas sebagai seorang pemimpin namun itu semua tidak diimbangi oleh pemimpin lain dan bisa terbilang lebih banyak yang kedibilatasnya dipertanyakan. Sehingga bangsa ini pun belum bisa menunjukan ke dunia bahwa bangsa ini memang bangsa yang sejahtera dan damai.
Maka solusinya adalah dengan menciptakan kader-kader pemimpin bangsa yang kredibiltas baik dari akhlak, wawasan, keterampilan serta sosialnya. Itu semua dapat diwujudkan dengan jenjang kaderisasi yang memang mengarah kepada hal itu. Tanpa mengurangi dari esensi-esensi yang ingin dicapainya. Terlebih untuk masalah akhlak tidak dapat dipungkiri emang ini adalah tombak utama dari kaderisasi seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw bahwa kepemimpinan yang baik yang adalah dengan suri tauladan yang baik dan ini sangat berhubungan dengan akhlak itu sendiri.
Masalah selanjutnya adalah masalah korupsi di negeri ini bahwasannya dipemberitaan-pemberitaan layar televisi yang membuat rasa jenuh dan geram dengan adanya tindak pidana korupsi yang tak lekang menghiasi. Bukan atas kekurangan dan kemiskinan secara harta yang melatarbelakangi oknum tindak korupsi, namun yang melatarbelakangi adalah kerakusan dan ketamakan atas harta yang banyak. Hal itu menunjukan kemiskinan dan kekurangan iktikad baik dalam hati para koruptor. Solusinya yang perlu dijunjung adalah dengan memegang agama yang teguh, bahwa selaku orang muslim seharusnya mampu mengamalkan ilmu-ilmu agama yang telah didapatnya. Karena dalam pepatah ilmu tanpa amal diibaratkan seperti pohon yang tak berdaun dan tak berbuah.
Megutip dari seorang pakar, yaitu menurut Prof. Dr. Syed Muh. Naquid al-Attas dalam buku Filsafat Ilmu Persepektif Barat dan Islam bahwa :
“tujuan untuk mencari pengetahuan dalam Islam adalah untuk menanamkan kebaikan atau keadilan dalam diri manusia sebagai menusia dan diri manusia sebagai manusia dan diri individu. Oleh karena itu tujuan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk menghasilkan orang yang … elemen mendasar yang melekat dalam konsep Islam pendidikan adalah penanaman adab…”
Maka dari itu bahwa sesungguhnya semakin banyak ilmu yang diperolah semakin mendekatkan kepada Sang Pencita dan semakin juga adab dan sosialnya.
Permasalahan selanjutnya yaitu ekonomi, tidak dipungkiri bangsa ini memiliki banyak kekayaan alam yang melimpah saking melimpahnya bahkan tidak jarang pihak-pihak asing berhasrat untuk memilikinya. Mungkin contoh yang pas adalah tentang pertambangan Freeport di Papua Barat. Sesungguhnya itu semua bisa teratasi dengan peraturan yang kuat dan mengekang dari pemerintah bagi pihak asing untuk tidak dapat mengambil kekayaan dari alam Indonesia.
Ekonomi memanglah masalah yang sangat sistemik namun hal itu bisa diatasi dengan perekonomian yang benar-benar untuk mensejahterakan rakyat dan segenap bangsa Indonesia. Marilah pemimpin-pemimin dan rakyatnya benar-benar bersatu mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, keamanan, dan kebaikan. Agar memang bangsa ini menjadi bangsa yang melindungi segenap rakyatnya.
Terimakasih…
Salam hangat dari penulis…
Taufik Muhammad Solihin
sumber : Taufik Muhammad Solihin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here